KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb. Segala puji syukur kehadirat
Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nya telah melimpahkan kepada kami, sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas penyusunan “Makalah
Supervisi Konseling” dapat terselesaikan dengan baik.
Makalah Supervisi Konseling ini dibuat agar dapat
memenuhi tugas mata kuliah Manajemen bimbingan dan konseling. Kami Menyadari
bahwa dalan penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu kami
mengharapkan kritik pembaca yang bersifat membangun, agar dalam penulisan
laporan dapat menjadi lebih baik dikemudian hari.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih dan semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Palangka Raya, Maret 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1
1.1 Latar
Belakang...................................................................................... 1
1.2 Rumusan
Masalah................................................................................. 1
1.3 Tujuan
Penulisan................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 2
A.
Dasar dan makna Supervisi................................................................... 4
B.
kriteria keberhasilan Konseling............................................................. 5
C.
Pendekatan dan alat
Supervisi.............................................................. 4
D.
Hambatan dan Masalah
dalam evaluasi……………………………. 7
BAB III PENUTUP........................................................................................ 9
A. Kesimpulan........................................................................................... 9
B. Saran
.................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 10
Bab I
Pendahuluan
1.1
Latar
Belakang
Supervisi konseling adalah sebuah kegiatan untuk
mendukung profesionalisme konselor di sekolah. Supervisi konseling juga
merupakan suatu proses pembelajaran untuk memberdayakan konselor agar dapat
mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya, sehingga dapat bekerja dengan
menampilkan kemampuan terbaiknya, memiliki motivasi dan tanggung jawab yang tinggi,
dan pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hasil pelayananannya terhadap
klien/konseli. Selain itu, supervisi konseling juga dapat dipandang sebagai
upaya untuk memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi klien/konseli dan
konselor itu sendiri dalam menghadapi berbagai situasi konseling yang amat
kompleks.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian dasar dan makna supervisi ?
2. Apa
kriteria keberhasilan konseling ?
3. Apa
pendekatan dan alat supervisi ?
4. Apa
hambatan dan masalah dalam evaluasi konseling ?
1.3 Tujuan Penulisan
- Untuk mengetahui pengertian dasar dan makna supervisi.
- Untuk mengetahui kriteria keberhasilan konseling.
- Untuk mengetahui pendekatan dan alat supervisi.
- Untuk mengetahui hambatan dan masalah dalam evaluasi konseling.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Dasar dan makna Supervisi
Diartikan secara
Etimologi, Supervisi berarti pengawasan, penilikan, pembinaan . Sedangkan
secara Terminologi, Supervisi adalah Bantuan berbentuk pembinaan yang di
berikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar
mengajar yang lebih baik . Setelah mengetahui supervisi, harus diketahui juga
pengertian dari bimbingan baik bersifat umum maupun khusus. Bimbingan bersifat
umum merupakan usaha-usaha untuk memberikan penerangan atau pendidikan agar
yang menerima bimbingan lebih mengetahui, lebih menyenangi, lebih bersikap
positif terhadap apa yang dibimbingkan. Sedangkan yang bersifat khusus yaitu
bimbingan yang diberikan oleh guru, pembimbing atau konselor kepada anak-anak
yang dalam perkembangan pendidikannya memperlihatkan kelambatan atau
hambatan/kesulitan.
Supervisi bimbingan dan
koseling merupakan satu relasi antara supervisor dan konselor
(supervisee) dimana supervisor (konselor senior)memberi dukungan dan bantuan
untuk meningkatkan mutu kinerja profesional supervisee.tumpu pada satu prinsip
yang mengakui setiap manusia itu mempunyai potensi untuk berkembang.
Dari penjelasan yang
telah diuraikan, dapat ditarik kerangka kesimpulan bahwa supervise konseling
merupakan pengawasan dan pembinaan yang diberikan kepada pembimbing atau
konselor untuk membantu anak-anak yang dalam tahap perkembangan pendidikannya
agar situasi situasi belajar mengajar lebih optimal.
Program kegiatan supervise
bukan merupakan :
Ø
Konseling/psikoterapi
Ø
Pemaksaan (imposing)
Ø
Kritik negatif
(negative criticism)
Ø
Memperdayakan
(disempowering)
Ø
Pertemanan (friendship)
Ø
Mencari kesalahan
(fault- finding)
Ø
Hukuman (funishment)
Ø
Untuk konselor yang
baru (vovicecounselor)
1.
Arah dan Tujuan Supervisi Konseling
Adapun arah supervisi
dalam program bimbingan adalah:
a.
Mengontrol kegiatan-kegiatan dari para personil bimbingan yaitu bagaimana
pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mereka masingmasing
b.
Mengontrol adanya kemungkinan hambatan-hambatan yang ditemui oleh para
personil bimbingan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.
c.
Memungkinkan dicarinya jalan keluar terhadap hambatan-hambatan dan
permasalahan-permasalahan yang ditemui.
d.
Memungkinkan terlaksananya program bimbingan secara lancar kearah
pencapaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan.
2. Tujuan Supervisi
a.
Meningkatkan kompetensi professional konselor.
b.
Meningkatkan kesadaran dan identitas professional.
c.
Mendorong perkembangan pribadi dan professional.
d.
Mempromosikan kinerja professional.
e.
Pemberian jaminan mutu terhadap praktek professional.
3.
Prinsip-prinsip Supervisi Konseling
Dalam prinsip Supevisi bimbingan dan penyuluhan dapat dibagi berdasarkan
sifatnya yaitu prinsip secara umum dan khusus :
1. Prinsip
umum
Supervisi harus bersifat praktis,dalam arti dapat di
kerjakan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah
a.
Hasil supervisi harus berfungsi sebagai sumber informasi bagi staf sekolah
untuk pengembangan proses belajar mengajar/ bimbingan konseling
b.
Supervisi dilaksanakan dengan mekanisme yang menunjang kurikulum yang
berlaku
2. Prinsip khusus
Supervisi hendaknya dilaksanakan secara :
a.
Sistematis artinya supervisi di kembangkan dengan perencanaan yang matang
sesuai dengan sasaran yang di inginkan.
b.
Objektif artinya supervisi memberikan masukkan sesuai dengan aspek yang
terdapat dalam instrument
c.
Realistis artinya supervisi di dasarkan atas kenyataan yang sebenarnya
yaitu pada keadaan hal-hal yang sudah di pahami dan di lakukan oleh para staf
sekolah
d.
Antisipatif artinya supervisi diarahkan untuk menghadapi kesulitan-
kesulitan yang mungkin akan terjadi.
e.
Konstruktif artinya supervisi memberikan saran-saran perbaikan kepada yang
di supervisi untuk berkembang sesuai dengan ketentuan atau aturan yang berlaku.
f.
Kreatif artinya supervisi mengembangkan.
B.
Kriteria Keberhasilan Konseling
Sementara itu, Robinson dalam Abin
Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan
efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu
kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang.
Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila:
1.
Peserta didik (klien) telah
menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.
2.
Peserta didik (klien) telah
memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
3.
Peserta didik (klien) telah
mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara
obyektif (self acceptance).
4.
Peserta didik (klien) telah
menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
5.
Peserta didik (klien) telah
menurun penentangan terhadap lingkungannya
6.
Peserta didik (klien) telah
melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima
kenyataan lingkungannya secara obyektif.
7.
Peserta didik (klien) mulai
menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan
mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
8.
Peserta didik (klien) telah
menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri
terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang
telah diambilnya.
9.
Sedangkan kriteria keberhasilan
jangka panjang, diantaranya apabila:
10.
Peserta didik (klien) telah
menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh
tindakan dan usaha-usahanya.
11.
Peserta didik (klien) telah
mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat
membawanya ke dalam kesulitan.
12.
Peserta didik (klien) telah
menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan
kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota
kelompok yang efektif.
C. Pendekatan dan alat Supervisi
Kata Pendekatan terdiri dari kata dasar dekat dan
mendapat imbuhan Pe-an yang berarti hal, usaha atau perbuatan mendekati atau
mendekatkan. Jadi Pendekatan Bimbingan dan Konseling adalah
suatu usaha yang dilakukan oleh seorang konselor untuk mendekati kliennya
sehingga klien mau menceritakan masalahnya. Usaha untuk membantu
meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber daya guru dapat dilaksanakan
dengan berbagai alat (device) dan teknik supervisi. alat dan teknik
supervisi dapat dibedakan dalam dua macam alat/teknik. (John Minor Gwyn, 1963:
326-327, untuk seorang guru secara individual, yaitu teknik yang dilaksankan
untuk melayani lebih dari satu.
Metode dalam pengertian harfiyah, adalah "jalan
yang harus dilalui" untuk mencapai suatu tujuan, karena
kata metode berasal dari meta yang berarti
melalui dan hodos yang berarti jalan. Namun pengertian hakiki
dari metode tersebut adalah segala sarana yang dapat digunakan untuk mencapai
tujuan yang diinginkan, baik sarana tersebut berupa fisik seperti alat peraga,
administrasi, dan pergedungan di mana proses kegiatan bimbingan berlangsung,
bahkan pelaksana metode seperti pembimbing sendiri adalah termasuk metode juga
dan sarana non fisik seperti kurikulum, contoh, teladan, sikap dan pandangan
pelaksana metode, lingkungan yang menunjang suksesnya bimbingan dan cara-cara
pendekatan dan pemahaman terhadap sasaran metode seperti wawancara, angket, tes
psikologis, sosiometri dan lain sebagainya.
·
Macam –macam
Pendekatan Konseling
Adapun macam-macam dari
pendekatan konseling yaitu:
1. Pendekatan
Rasional Emotif
Terapi Rasional
Emotif (TRE) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia
dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk
berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecendrungan-kecendrungan untuk
memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan,mencintai, bergabung
dengan orang lain serta tumbuh dan mengaktualkan diri. Akan tetapi manusia
memiliki kecendrungan-kecendrungan kea rah menghancurkan diri, menghindari
pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan,
perfeksionisme dan mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi
diri. Manusia pun berkecendrungan untuk terpaku pada pola-pola tingkah laku
lama dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri.
Manusia tidak
ditakdirkan untuk menjadi korban pengondisian awal. Terapi Rasional Emotif
menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi
aktualisasi potensi-potensi dirinya dan biasa mengubah ketentuan-ketentuan
pribadi dan masyarakatnya. Terapi Rasional Emotif menekankan bahwa manusia
berpikir, beremosi dan bertindak secara simultan.jarang manusia beremosi tanpa
berpikir, sebab perasaan-perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu
situasi yang spesifik.
Teori
konseling Rasional Emotif dengan istilah lain dikenal dengan “rasional emotive
therapy” yang dikembangkan oleh Dr. Albert Ellist, seorang ahli Clinic
Psychology (Psikologi Klinis). Atas dasar pengalaman selama prakteknya dan
kemudian dihubungkan dengan teori tingkah laku belajar, maka akhirnya Albert
Ellist mencoba untuk mengembangkan suatu teori yang disebut “ Rational-Emotive
Therapy” dan selanjutnya popular dengan singkatan RET. Tujuan dari Albert
Ellist pada intinya adalah untuk mengatasi pikiran yang tidak logis tentang
diri sendiri dan lingkungannya.Konselor ata terapis berusaha agar klien makin
menyadari pikiran dan kata-kata sendiri, serta mengadakan pendekatan yng tegas,
melatih klien untuk bisa berfikir dan berbuat yang lebih realistis dan
rasional.
2. Pendekatan Analisis Transaksional
Analisis Transaksional (AT) adalah psikoterapi
transaksional yang dapat digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok
untuk digunakan dalam terapi kelompok. Analisis Transaksional berbeda
dengan sebagian besar terapi lain dalam arti ia adalah suatu terapi kontraktual
dan desisional. Analisisn Transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat
oleh klien yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arti proses terapi,
juga berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat oleh klien, dan menekankan
kemampuan klien untuk membuat putusan-putusan baru.
Analisis Transaksional cenderung mempersamakan kekuasaan
terapis dan klien dan menjadi tanggung jawab klien untuk menentukan apa yang
akan diubahnya agar perubahan menjadi kenyataan, klien mengubah tingkah lakunya
secara aktif. Selama pertemuan terapi, klien melakukan evaluasi terhadap arah
hidupnya, berusaha memahami putusan-putusan awal yang telah dibuatnya, serta
menginsafibahwa sekarang ia menetapkan orang dan memulai suatu arah baru dalam
hidupnya.Pada dasarnya, Analisis Transaksional berasumsi bahwa orang-orang bias
belajar mempercayai dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-perasaannya.
D.
Hambatan
dan masalah dalam evaluasi konseling
a.
Hambatan
dalam Evaluasi Program Konseling
1. Pelaksana bimbingan di sekolah tidak mempunyai waktu yang
cukup memadai untuk melaksanakan evaluasi pelaksanaan program BK.
2. Pelaksanaan bimbingan dan konseling memiliki latar
belakang pendidikan yang bervariasi baik ditinjau dari segi jenjang maupun
programnya, sehingga kemampuannya pun dalam mengevaluasi pelaksanaan program BK
sangat bervariasi termasuk dalam menyusun, membakukan dan mengembangkan
instrumen evaluasi.
3. Belum tersedianya alat-alat atau instrument evaluasi
pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah yang valis, reliable,
dan objektif.
4. Belum diselenggarakannya penataran, pendidikan, atau
pelatihan khusus yang berkaitan tentang evaluasi pelaksanaan program bimbingan
dan konseling pada umumnya, penyusunan dan pengembangan instrumen evaluasi
pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah
5. Penyelenggaraan evaluasi membutuhkan banyak waktu dan
uang. Tidak dapat diragukan lagi untuk memulai mengadakan evaluasi tampaknya
memerlukan baya yang cukup mahal dan perlu biaya yang banyak.
6. Belum adanya guru inti atau instruktur BK yg ahli dlm
bidang evaluasi pelaksanaan peogram BK di sekolah. Sampai saat ini kebanyakan
yg terlibat dlm bidang ini adalah dari perguruan tinggi yang sudah tentu konsep
dan kerangka kerjanya tidak berorientasi kepada kepentingan sekolah
7. Perumusan kriteria keberhasilan evaluasi pelaksanaan
bimbingan dan yang tegas dan baku belum ada sampai saat ini.Headlines Ne
b.
Masalah Dalam Bimbingan
dan Konseling
Masalah dalm
evaluasi konseling yang sering muncul adalah berlatar belakangkan tiga aspek.
1. Aspek
lingkungan khususnya lingkungan. sosial kultural, yang secara langsung ataupun
tidak langsung mempengaruhi individu siswa sebagai subjek didik, dan sekolah
sebagai lembaga pendidikan. Sebagai akibat dari lingkungan pengaruh
sosial-kultural ini, maka individu memerlukan adanya bantuan dalam perkembangannya,
dan sekolahpun memerlukan pendekatan khusus. Bantuan dan pendekatan yang
diperlukan adalah layanan bimbingan dan konseling.
2. Aspek
yang kedua adalah lembaganya itu sendiri yaitu pendidikan yang mempunyai
tanggung jawab untuk mengembangkan kepribadian subjek didik. Pendidikan yang
baik adalah pendidikan yang dilaksanakan secara tuntas baik dalam proses
kegiatannya maupun tindak dan para pelaksana nya yaitu guru sebagai pendidik.
Untuk menuntaskan pendidikan, diperlu kan adanya layanan bimbingan dan
konseling.
3. Aspek
ketiga adalah yang menyangkut segi subjek didik sebagai pribadi yang unik,
dinamik dan berkembang, memerlukan pendekatan dan bantuan yang khusus melalui
layanan bimbingan dan konseling. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aspek
lingkungan (sosial kultural) pendidikan, dan siswa (psikologis) merupakan
latar belakang perlunya layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
4.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
·
Diartikan secara Etimologi, Supervisi berarti pengawasan, penilikan,
pembinaan Sedangkan secara Terminologi, Supervisi adalah Bantuan berbentuk
pembinaan yang di berikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan
situasi belajar mengajar yang lebih baik.
·
Robinson dalam Abin
Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan
efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu
kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang.
·
Kata Pendekatan terdiri
dari kata dasar dekat dan mendapat imbuhan Pe-an yang berarti hal, usaha atau
perbuatan mendekati atau mendekatkan. Jadi Pendekatan Bimbingan dan Konseling
adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang konselor untuk mendekati
kliennya sehingga klien mau menceritakan masalahnya.
·
Hambatan dalam evalluasi
konseling dibagi menjadi beberapa aspek.
·
Masalah dalam evaluasi
konseling yang sering muncul adalah berlatar belakangkan tiga aspek yaitu aspek
lingkungan, aspek lembaga pendidikan, aspek menyangkut segi subjek didik
sebagai pribadi yang unik.
B. Saran
Dalam penyusunan
makalah ini saya menyadari bahwa saya tidak luput dari kesalahan dan
kekurangan, maka dari itu saya mengharapkan pembaca melengkapi dan memberikan
saran yang bersifat membangun.
DAFTAR PUSAKA
Indra,2012.Supervisi Bimbingan
Penyuluhan.(http://indrasangpujangga.blogspot.com/2012/04/supervisi-bimbingan-penyuluhan.html). Diakses tanggal 29 April 2012
Sudrajat,2010. Evaluasi
bimbingan konseling
(http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/02/03/evaluasi-program-bimbingan-dan-konseling-di-sekolah). Diakses tanggal 3 Febuari 2010
Scribd,2012 Instrumen Supervisi Kegiatan Bimbingan dan
Konseling
(http://www.scribd.com/doc/50678504/Instrumen-Supervisi-Kegiatan-Bimbingan-Dan-Konseling). Diakses tanggal 20 April 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar