Senin, 03 November 2014

KATA PENGANTAR



Assalamu’alaikum Wr.Wb. Segala puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nya telah melimpahkan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas penyusunan  “Makalah Supervisi Konseling” dapat terselesaikan dengan baik.

Makalah Supervisi Konseling ini dibuat agar dapat memenuhi tugas mata kuliah Manajemen bimbingan dan konseling. Kami Menyadari bahwa dalan penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu kami mengharapkan kritik pembaca yang bersifat membangun, agar dalam penulisan laporan dapat menjadi lebih baik dikemudian hari.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb



Palangka Raya,      Maret  2014


Penyusun










DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
KATA PENGANTAR ..................................................................................      ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................      iii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................      1
1.1  Latar Belakang......................................................................................      1
1.2  Rumusan Masalah.................................................................................      1
1.3  Tujuan Penulisan...................................................................................      1

BAB II PEMBAHASAN ...............................................................................      2
A.    Dasar dan makna Supervisi...................................................................      4
B.     kriteria keberhasilan Konseling.............................................................      5
C.    Pendekatan dan alat Supervisi..............................................................      4
D.    Hambatan dan Masalah dalam evaluasi…………………………….        7


BAB III PENUTUP........................................................................................      9
A.    Kesimpulan...........................................................................................      9
B.     Saran ....................................................................................................      9

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................      10










Bab I
Pendahuluan

1.1  Latar Belakang
Supervisi konseling adalah sebuah kegiatan untuk mendukung profesionalisme konselor di sekolah. Supervisi konseling juga merupakan suatu proses pembelajaran untuk memberdayakan konselor agar dapat mengembangkan pengetahuan dan kompetensinya, sehingga dapat bekerja dengan menampilkan kemampuan terbaiknya, memiliki motivasi dan tanggung jawab yang tinggi, dan pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hasil pelayananannya terhadap klien/konseli. Selain itu, supervisi konseling juga dapat dipandang sebagai upaya untuk memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi klien/konseli dan konselor itu sendiri dalam menghadapi berbagai situasi konseling yang amat kompleks.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dasar dan makna supervisi ?
2.      Apa kriteria keberhasilan konseling ?
3.      Apa pendekatan dan alat supervisi ?
4.      Apa hambatan dan masalah dalam evaluasi konseling ?
1.3  Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengetahui pengertian dasar dan makna supervisi.
  2. Untuk mengetahui kriteria keberhasilan konseling.
  3. Untuk mengetahui pendekatan dan alat supervisi.
  4. Untuk mengetahui hambatan dan masalah dalam evaluasi konseling.




BAB II
PEMBAHASAN

A. Dasar dan makna Supervisi
Diartikan secara Etimologi, Supervisi berarti pengawasan, penilikan, pembinaan . Sedangkan secara Terminologi, Supervisi adalah Bantuan berbentuk pembinaan yang di berikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik . Setelah mengetahui supervisi, harus diketahui juga pengertian dari bimbingan baik bersifat umum maupun khusus. Bimbingan bersifat umum merupakan usaha-usaha untuk memberikan penerangan atau pendidikan agar yang menerima bimbingan lebih mengetahui, lebih menyenangi, lebih bersikap positif terhadap apa yang dibimbingkan. Sedangkan yang bersifat khusus yaitu bimbingan yang diberikan oleh guru, pembimbing atau konselor kepada anak-anak yang dalam perkembangan pendidikannya memperlihatkan kelambatan atau hambatan/kesulitan.

Supervisi bimbingan dan koseling  merupakan satu relasi antara supervisor dan konselor (supervisee) dimana supervisor (konselor senior)memberi dukungan dan bantuan untuk meningkatkan mutu kinerja profesional supervisee.tumpu pada satu prinsip yang mengakui setiap manusia itu mempunyai potensi untuk berkembang.

Dari penjelasan yang telah diuraikan, dapat ditarik kerangka kesimpulan bahwa supervise konseling merupakan pengawasan dan pembinaan yang diberikan kepada pembimbing atau konselor untuk membantu anak-anak yang dalam tahap perkembangan pendidikannya agar situasi situasi belajar mengajar lebih optimal.
 Program kegiatan supervise bukan merupakan :
Ø   Konseling/psikoterapi
Ø   Pemaksaan (imposing)
Ø   Kritik negatif (negative criticism)
Ø   Memperdayakan (disempowering)
Ø   Pertemanan (friendship)
Ø   Mencari kesalahan (fault- finding)
Ø   Hukuman (funishment)
Ø   Untuk konselor yang baru (vovicecounselor)
1.      Arah dan Tujuan Supervisi Konseling
Adapun arah supervisi dalam program bimbingan adalah:
a.    Mengontrol kegiatan-kegiatan dari para personil bimbingan yaitu bagaimana pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mereka masingmasing
b.   Mengontrol adanya kemungkinan hambatan-hambatan yang ditemui oleh para personil bimbingan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.
c.    Memungkinkan dicarinya jalan keluar terhadap hambatan-hambatan dan permasalahan-permasalahan yang ditemui.
d.   Memungkinkan terlaksananya program bimbingan secara lancar kearah pencapaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan.
2.      Tujuan Supervisi
a.    Meningkatkan kompetensi professional konselor.
b.   Meningkatkan kesadaran dan identitas professional.
c.    Mendorong perkembangan pribadi dan professional.
d.   Mempromosikan kinerja professional.
e.    Pemberian jaminan mutu terhadap praktek professional.
3.      Prinsip-prinsip Supervisi Konseling
Dalam prinsip Supevisi bimbingan dan penyuluhan dapat dibagi berdasarkan sifatnya yaitu prinsip secara umum dan khusus :
1.  Prinsip umum
Supervisi harus bersifat praktis,dalam arti dapat di kerjakan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah
a.    Hasil supervisi harus berfungsi sebagai sumber informasi bagi staf sekolah untuk pengembangan proses belajar mengajar/ bimbingan konseling
b.   Supervisi dilaksanakan dengan mekanisme yang menunjang kurikulum yang  berlaku
2.    Prinsip khusus
Supervisi hendaknya dilaksanakan secara :
a.    Sistematis artinya supervisi di kembangkan dengan perencanaan yang matang sesuai dengan sasaran yang di inginkan.
b.   Objektif artinya supervisi memberikan masukkan sesuai dengan aspek yang terdapat dalam instrument
c.    Realistis artinya supervisi di dasarkan atas kenyataan yang sebenarnya yaitu pada keadaan hal-hal yang sudah di pahami dan di lakukan oleh para staf sekolah
d.   Antisipatif artinya supervisi diarahkan untuk menghadapi kesulitan- kesulitan yang mungkin akan terjadi.
e.    Konstruktif artinya supervisi memberikan saran-saran perbaikan kepada yang di supervisi untuk berkembang sesuai dengan ketentuan atau aturan yang berlaku.
f.    Kreatif artinya supervisi mengembangkan.

B.              Kriteria Keberhasilan Konseling
Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang.
Kriteria keberhasilan tampak segera, diantaranya apabila:
1.      Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.
2.      Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
3.      Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
4.      Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
5.      Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
6.      Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif.
7.      Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
8.      Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya.
9.      Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang, diantaranya apabila:
10.  Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya.
11.  Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan.
12.  Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif, produktif, dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.

C.  Pendekatan dan alat Supervisi
Kata Pendekatan terdiri dari kata dasar dekat dan mendapat imbuhan Pe-an yang berarti hal, usaha atau perbuatan mendekati atau mendekatkan. Jadi Pendekatan Bimbingan dan Konseling adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang konselor untuk mendekati kliennya sehingga klien mau menceritakan masalahnya. Usaha untuk membantu meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber daya guru dapat dilaksanakan dengan berbagai alat (device) dan teknik supervisi. alat dan teknik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam alat/teknik. (John Minor Gwyn, 1963: 326-327, untuk seorang guru secara individual, yaitu teknik yang dilaksankan untuk melayani lebih dari satu.
Metode dalam pengertian harfiyah, adalah "jalan yang harus dilalui" untuk mencapai suatu tujuan, karena kata metode berasal dari meta yang berarti melalui dan hodos yang berarti jalan. Namun pengertian hakiki dari metode tersebut adalah segala sarana yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, baik sarana tersebut berupa fisik seperti alat peraga, administrasi, dan pergedungan di mana proses kegiatan bimbingan berlangsung, bahkan pelaksana metode seperti pembimbing sendiri adalah termasuk metode juga dan sarana non fisik seperti kurikulum, contoh, teladan, sikap dan pandangan pelaksana metode, lingkungan yang menunjang suksesnya bimbingan dan cara-cara pendekatan dan pemahaman terhadap sasaran metode seperti wawancara, angket, tes psikologis, sosiometri dan lain sebagainya
·      Macam –macam  Pendekatan Konseling
Adapun macam-macam dari pendekatan konseling yaitu:
1. Pendekatan Rasional Emotif
Terapi Rasional Emotif (TRE) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecendrungan-kecendrungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan,mencintai, bergabung dengan orang lain serta tumbuh dan mengaktualkan diri. Akan tetapi manusia memiliki kecendrungan-kecendrungan kea rah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali  kesalahan-kesalahan,  perfeksionisme dan mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri. Manusia pun berkecendrungan untuk terpaku pada pola-pola tingkah laku lama dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri.

Manusia tidak ditakdirkan untuk menjadi korban pengondisian awal. Terapi Rasional Emotif menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan biasa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya. Terapi Rasional Emotif menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi dan bertindak secara simultan.jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan-perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik.
Teori konseling Rasional Emotif dengan istilah lain dikenal dengan “rasional emotive therapy” yang dikembangkan oleh Dr. Albert Ellist, seorang ahli Clinic Psychology (Psikologi Klinis). Atas dasar pengalaman selama prakteknya dan kemudian dihubungkan dengan teori tingkah laku belajar, maka akhirnya Albert Ellist mencoba untuk mengembangkan suatu teori yang disebut “ Rational-Emotive Therapy” dan selanjutnya popular dengan singkatan RET. Tujuan dari Albert Ellist pada intinya adalah untuk mengatasi pikiran yang tidak logis tentang diri sendiri dan lingkungannya.Konselor ata terapis berusaha agar klien makin menyadari pikiran dan kata-kata sendiri, serta mengadakan pendekatan yng tegas, melatih klien untuk bisa berfikir dan berbuat yang lebih realistis dan rasional.
2. Pendekatan Analisis Transaksional
Analisis Transaksional (AT) adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam terapi  kelompok. Analisis Transaksional berbeda dengan sebagian besar terapi lain dalam arti ia adalah suatu terapi kontraktual dan desisional. Analisisn Transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arti proses terapi, juga berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat oleh klien, dan menekankan kemampuan klien untuk membuat putusan-putusan baru.
Analisis Transaksional cenderung mempersamakan kekuasaan terapis dan klien dan menjadi tanggung jawab klien untuk menentukan apa yang akan diubahnya agar perubahan menjadi kenyataan, klien mengubah tingkah lakunya secara aktif. Selama pertemuan terapi, klien melakukan evaluasi terhadap arah hidupnya, berusaha memahami putusan-putusan awal yang telah dibuatnya, serta menginsafibahwa sekarang ia menetapkan orang dan memulai suatu arah baru dalam hidupnya.Pada dasarnya, Analisis Transaksional berasumsi bahwa orang-orang bias belajar mempercayai dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-perasaannya.

D.    Hambatan dan masalah dalam evaluasi konseling
a.   Hambatan dalam Evaluasi Program Konseling
1.   Pelaksana bimbingan di sekolah tidak mempunyai waktu yang cukup memadai untuk melaksanakan evaluasi pelaksanaan program BK.
2.   Pelaksanaan bimbingan dan konseling memiliki latar belakang pendidikan yang bervariasi baik ditinjau dari segi jenjang maupun programnya, sehingga kemampuannya pun dalam mengevaluasi pelaksanaan program BK sangat bervariasi termasuk dalam menyusun, membakukan dan mengembangkan instrumen evaluasi.
3.   Belum tersedianya alat-alat atau instrument evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah yang valis, reliable, dan objektif.
4.   Belum diselenggarakannya penataran, pendidikan, atau pelatihan khusus yang berkaitan tentang evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling pada umumnya, penyusunan dan pengembangan instrumen evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah
5.   Penyelenggaraan evaluasi membutuhkan banyak waktu dan uang. Tidak dapat diragukan lagi untuk memulai mengadakan evaluasi tampaknya memerlukan baya yang cukup mahal dan perlu biaya yang banyak.
6.   Belum adanya guru inti atau instruktur BK yg ahli dlm bidang evaluasi pelaksanaan peogram BK di sekolah. Sampai saat ini kebanyakan yg terlibat dlm bidang ini adalah dari perguruan tinggi yang sudah tentu konsep dan kerangka kerjanya tidak berorientasi kepada kepentingan sekolah
7.   Perumusan kriteria keberhasilan evaluasi pelaksanaan bimbingan dan yang tegas dan baku belum ada sampai saat ini.Headlines Ne
b.   Masalah Dalam Bimbingan dan Konseling
Masalah dalm evaluasi konseling yang sering muncul adalah berlatar belakangkan tiga aspek.
1.   Aspek lingkungan khususnya lingkungan. sosial kultural, yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi individu siswa sebagai subjek didik, dan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Sebagai akibat dari lingkungan pengaruh sosial-kultural ini, maka individu memerlukan adanya bantuan dalam perkembangannya, dan sekolahpun memerlukan pendekatan khusus. Bantuan dan pendekatan yang diperlukan adalah layanan bimbingan dan konseling.
2.   Aspek yang kedua adalah lembaganya itu sendiri yaitu pendidikan yang mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan kepribadian subjek didik. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dilaksanakan secara tuntas baik dalam proses kegiatannya maupun tindak dan para pelaksana nya yaitu guru sebagai pendidik. Untuk menuntaskan pendidikan, diperlu kan adanya layanan bimbingan dan konseling.
3.   Aspek ketiga adalah yang menyangkut segi subjek didik sebagai pribadi yang unik, dinamik dan berkembang, memerlukan pendekatan dan bantuan yang khusus melalui layanan bimbingan dan konseling. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aspek lingkungan (sosial  kultural) pendidikan, dan siswa (psikologis) merupakan latar belakang perlunya layanan bimbingan dan konseling di sekolah.



4.     
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
·      Diartikan secara Etimologi, Supervisi berarti pengawasan, penilikan, pembinaan Sedangkan secara Terminologi, Supervisi adalah Bantuan berbentuk pembinaan yang di berikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
·      Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang.
·      Kata Pendekatan terdiri dari kata dasar dekat dan mendapat imbuhan Pe-an yang berarti hal, usaha atau perbuatan mendekati atau mendekatkan. Jadi Pendekatan Bimbingan dan Konseling adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang konselor untuk mendekati kliennya sehingga klien mau menceritakan masalahnya.
·      Hambatan dalam evalluasi konseling dibagi menjadi beberapa aspek.
·      Masalah dalam evaluasi konseling yang sering muncul adalah berlatar belakangkan tiga aspek yaitu aspek lingkungan, aspek lembaga pendidikan, aspek menyangkut segi subjek didik sebagai pribadi yang unik.
B.  Saran
Dalam penyusunan makalah ini saya menyadari bahwa saya tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, maka dari itu saya mengharapkan pembaca melengkapi dan memberikan saran yang bersifat membangun.








DAFTAR PUSAKA

Indra,2012.Supervisi Bimbingan

Sudrajat,2010. Evaluasi bimbingan konseling
 (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/02/03/evaluasi-program-bimbingan-dan-konseling-di-sekolah). Diakses tanggal 3 Febuari 2010

Scribd,2012 Instrumen Supervisi Kegiatan Bimbingan dan Konseling

Hafifah,2013 bimbingan konseling pendekatan (http://hananunayhafifah.blogspot.com/2013/03/model-pendekatan-dan-teknik-teknik.html).Diaskes

Tidak ada komentar:

Posting Komentar